Jangan Menjadi Pemimpin Bila Tak Mampu Mengelola Pengaruh dan Kekuasaan

Agustus 04, 2018

 Jangan Menjadi Pemimpin Bila Tak Mampu Mengelola Pengaruh dan Kekuasaan

Majalah Mata Indonesia - Banyak orang menginginkan menjadi seorang pemimpin tetapi selain tidak memiliki pengetahuan tentang kepemimpinan, juga diperparah lagi tidak memiliki  ketrampilan memimpin. Togel Hongkong Akibatnya adalah organisasi menjadi rusak, kacau balau dan dipastikan tidak akan tiba dan  pernah sampai ketujuan yang diinginkan bersama dalam organisasi.

Situasinya menjadi lebih ironis lagi ketika Sang Pemimpin tidak pernah menyadari dan memahami bahwa sesungguhnya dia tidak memiliki pengatahuan dan ketrampilan untuk menjadi seorang pemimpin.

Lalu, karena dia sudah terpilih menjadi pemimpin, entah caranya dengan "tipsani" alias tipu sana tipu sini, maka menurutnya segala yang dilakukannya sudah benar adanya. Maka lengkap dan semupurnalah kekacauan organisasi itu.

Era sekarang yang ditandai dengan keterbukaan dan transparansi yang luar biasa, dengan kemajuan teknologi informasi, komunikasi menyebabkan semua hal terbuka habis di depan public. Nyaris tak ada lagi ruang privasi bagi seorang pemimpin. Apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin diektahui oleh publik secara terbuka.

Mengacu pada pengertian dasar dari Kepenmimpinan atau Leadership, maka seorang pemimpin harus mampu mengelola dua aspek kunci dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya, yaitu Power atau Kekuasaan dan Pengaruh atau Influnce.

Dengan sederhana, pakar dan penulis buku teks Leadership Richard T Daft, memperkenalkan 4 macam pengaruh yang bisa dimainkan oleh seorang pemipin, yaitu Transformational  (dan transkasional), Charismatic, Coalitional, dan Machiavellian.

Pada umumnya saetiap pemimpin akan memperlihatkan jenis dominan dalam mengelola pengaruh yang dijalankan, sehingga keempat jenis ini sering diidentikan sebagai Style-Leadership.

Jadi, pemimpin yang sangata menunjukkan pengaruh Machiavellian, maka pemimpin ini bisa dikatakan menggunakan Gaya Kepemimpinan Machiavellian, dan demkian juga style yang lainnya. Berikut akan coba digambarkan secara sederhana masing-masing jenis pengaruh ini.

Transformational dan Transactional Leadership

 Jangan Menjadi Pemimpin Bila Tak Mampu Mengelola Pengaruh dan Kekuasaan

Transformational leadership ditandai dengan kemampuan untuk membawa perubahan yang terasa dan berart, baikj bagi pengikutnya atau followers maupun bagi organisasi itu sendiri. Pemimpin transformasional memiliki kemampuan untuk memimpin perubahan bagi visi, strategi dan budaya di dalam organisasi dan mempromosikan inovasi dalam produk serta teknologi.

Perlu disadari bahwa kepemimpinan transformasional sering dikacauakan penggunaan dengan kepemimpinan transaksional. Padahal sangat berbeda. Dasar Transactional Leadership adalah sebuah transaksi atau proses pertukaran antara leader dan follower.

Pemimpin dengan transactional leadership mengakui kebutuhan dan keinginan followernya, kemudian mengklarifikasikan bagaimana kebutuhan dan keinginan tersebut akan memuaskan follower jika follower dapat mencapai tujuan tertentu dan tugas tertentu.

Sehingga, followers menerima penghargaan atas kinerjanya dan leader memperoleh manfaat dari tugas yang diselesaikan dengan baik oleh followersnya.

Sederhananya adalah bawah Pimpinan Transaksional berfokus dalam menjaga agar organisasi berjalan lancar dan efisien serta menjaga stabilitas dalam organisasi dari pada mempromosikan perubahan.

Sedangkan kepemimpinan taransformasional berfokus pada kualitas berwujudnya visi, nilai bersama, dan ide-ide untuk membangun hubungan, memberikan arti yang lebih besar untuk setiap  kegiatan, dan menginspirasi orang untuk berpartisipasi dalam proses perubahan.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa transformational leadership didasarkan pada nilai pribadi, keyakinan, dan kualitas dari pemimpin bukan pada proses pertukaran antara pemimpin dan pengikut.

Untuk itu bisa diidentifikasi perbedaan antara transformational leadership dengan transactional leadership dalam empat area kunci, yaitu: (i). Transformational leadership menggambarkan sebuah visi besar mengenai masa depan yang diinginkan dan mengkomunikasikannya secara efektif, (ii).

Transformational leadership menginspirasi followernya untuk mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan sendiri, (iii). Transformational leadership memberikan perhatian kepada follower dari kebutuhan fisik tingkat yang lebih rendah (seperti keselamatan dan keamanan) sampai dengan kebutuhan psikologis tingkat tinggi (seperti harga diri dan aktualisasi diri), (iv). Transformational leadership mengembangkan followernya untuk menjadi leader.

Para pemimpin yang efektif itu seorang  yang mempunyai kemampuan untuk menunjukan kedua pola kepemimpinan itu dalam prakteknya, yaitu baik transformasional maupun transaksional. Mereka bukan hanya menekankan pada kemampuan mereka dalam membangun visi dan memberdayakan dan memberikan energi yang postif, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merancang struktur, sistem kontrol, dan sistem penghargaan yang dapat membantu orang-orang dalam organisasi mencapai visi.

Charismatic Leadership

 Jangan Menjadi Pemimpin Bila Tak Mampu Mengelola Pengaruh dan Kekuasaan


Jenis pengaruh yang kedua adalah charismatic pemimpin. Pemimpin yang terbiasa menggunakan jenis pengaruh ini, bisa dikategirikan sebagai Gaya Kepemimpina Kharismatik.

Charismatic leader memiliki sebuah pengaruh emosional, yaitu melibatkan emosi mereka dalam kehidupan pekerjaan sehari-hari, yang membuat mereka terlihat energik, antusias, dan menarik bagi orang lain serta dapat menginspirasi orang-orang dalam organisasi.

Karisma sering disebut sebagai "api yang menyulut energi dan komitmen para pengikut, memberikan hasil maksimal, serta melampaui panggilan tugas." Pemimpin karismatik memiliki dampak emosional pada seseorang agar mereka melakukan lebih banyak dari pada yang biasanya dilakukan serta memberi semangat untuk mendorong tiap orang agar mengenyampingkan kepentingan mereka sendiri demi mencapai tujuan.

Jika dalam transformational leadership pemimpin mencoba untuk meningkatkan kerjasama dan pemberdayaan follower, charismatic leadership menanamkan sebuah kekaguman pada followernya.

       
     
  

You Might Also Like

0 komentar