Perusahaan Penerbangan Dunia Akhirnya Tunduk pada Permintaan Tiongkok

Juni 05, 2018

 Perusahaan Penerbangan Dunia Akhirnya Tunduk pada Permintaan Tiongkok

Majalah Mata Indonesia - Cerita ini bermula ketika pada bulan April lalu pihak otoritas penerbangan Tiongkok  China's aviation regulator memberikan batas waktu sampai akhir bulan Mei ini kepada puluhan perusahaan penerbangan dunia TogelSingapore untuk menghilangkan materi di website mereka terkait dengan Taiwan, Hong Kong dan  Macau sebagai negara.

Pihak otoritas penerbangan Tiongkok ini secara tegas meminta bahwa di 36  website penerbangan utama dunia  ini dinyatakan Taiwan, Hong Kong dan  Macau sebagai bagian dari negara Tiongkok.

Permintaan ini mengundang reaksi dari beberapa negara seperti Amerika, Kanada, Australia dll.  Sebagai contoh pemerintahan Amerika mengatakan bahwa permintaan otoritas penerbangan Tiongkok ini sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

Di lain pihak  pemerintah Australia melaui Menteri Luar Negeri nya menyatakan bahwa Perusahaan penerbangan seharusnya bebas melakukan bisnisnya  tanpa dipengaruhi oleh politik.  Bahkan salah seorang senat meminta Sekretaris Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia untuk tidak tunduk pada tekanan Tiongkok ini.
Mengapa Akhirnya Mereka Tunduk Juga?

 Perusahaan Penerbangan Dunia Akhirnya Tunduk pada Permintaan Tiongkok

Bagi perusahaan penerbangan dunia, Tiongkok dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia memegang peran penting dalam kelangsungan bisnis penerbangan mereka.

Hal ini tercermin dari hasil pertemuan tahunan the International Air Transport Association (IATA) hari senin yang lalu yang menyatakan bahwa badan penerbangan dunia ini akan memenuhi permintaan Tiongkok tersebut.

Demikian juga dengan perudahaan penerbangan yang berbasis di berbagai negara seperti Air Canada, Lufthansa dan  British Airways telah menyatakan akan memenuhi permintaan Tiongkok ini, sedangkan  pihak American Airlines menyatakan untuk sementara masih mengikuti arahan dari pemerintah Amerika untuk tidak mengikuti permintaan Tiongkok ini.

Jika dianalis lebih dalam permintaan Tiongkok ini tidak lepas dari upaya Tiongkok untuk menyatakan eksistensi dan dominasinya dalam kancah perpolitikan  dan perekonomian dunia.  Permintaan Tiongkok ini jelas memasukan unsur kebijakan politik luar negerinya ke dalam bisnis swasta penerbangan.

 Perusahaan Penerbangan Dunia Akhirnya Tunduk pada Permintaan Tiongkok

Permintaan Tiongkok ini juga secara halus menekan perusahaan penebangan swasta dunia untuk "mengikuti" kemauan Tiongkok dan sekaligus menekankan konsekuensi  yang akan ditanggung oleh perusahaan penerbangan swasta ini jika tidak memenuhi permintaan Tiongkok.

Bagi penerbangan swasta walaupun permintaan Tiongkok ini kental dengan urusan  politik dan akan memiliki konsekuensi jika dilaksanakan, namun mengingat besarnya skala  bisnis yang melibatkan Tiongkok ini tentunya akan menjadi pertimbangan tersendiri.

Pada akhirnya pertimbangan bisnislah yang membuat penerbangan swasta dunia ini memenuhi permintaan Tiongkok walaupun pemerintah dimana perusahaan ini beroperasi menentang kebijakan ini.

Contoh yang paling menarik  menggambarkan fenomena di atas ini adalah  perusahaan penerbangan Australia Qantas.

Keputusan penerbangan  Australia untuk mengikuti permintaan Tiongkok ini tidak saja penyangkut penerbangan Qantas namun jugan Qantas Group nya yang tentunya akan mempengaruhi reorganisasi penempatan stafnya di tempat yang dulunya di tiga wilayah dianggap sebagai negara terpisah dari Tiongkok.

Sebagai Menteri Luar Negeri Julie Bishop memang berkewajiban menyampaikan sikap politik pemerintahnya terhadap permintaan otoritas penerbangan Tiongkok ini walaupun tampak sekali sekedar basa basi  politik Australia saja.

Tidak dapat dipungkiri lagi jika saat ini mitra  dagang utama Australia adalah Tiongkok dan perekonomian Australia tergantung pada Tiongkok.

Sebagai contoh berbagai sektor seperti pertambangan, perdagangan, pendidikan dan pertanian Australia sangat tergantung pada Tiongkok. Sudah dapat dipastikan jika ada guncangan politik yang menyebabkan hubungan kedua negara ini tidak harmonis akan menguncang perekonomian Australia.

Guncangan politik antara Australia dan Tiongkok sudah beberapa  kali terjadi mengingat secara tradisional kiblat politik Australia lebih condong ke Amerika sementara perekonomian Australia sangat tergantung dari negeri negara Asia terutama Tiongkok.

Oleh sebab itu sangat mudah dimengerti ketika pihak penerbangan Qantas menyatakan akan memenuhi permintaan Tiongkok ini.

Sebagai gambaran jumlah turis  Tiongkok  ke Australia merupakan salah satu yang terbanyak.  Demikian juga jumlah mahasiswa Tiongkok di Australia yang mencapai lebih dari 150 ribu mahasiswa tentunya akan menjadi sangat vital bagi keberlangsungan bisnis penerbangan Qantas yang akhir akhir ini juga masuk dalam kondisi darurat.

Secara   politik walaupun abu abu pemeritah Australia melalui  Department of Foreign ASffaors and Trade (DFAT)  nya menyakan :

 "The Australian Government does not recognise the ROC as a sovereign state and does not regard the authorities in Taiwan as having the status of a national government."

Memang terlalu riskan bagi Australia jika negara ini mengakui Taiwan, Honkong dan Macau sebagai negara terpisah dari Tiongkok  jika akhirnya akan menimbulkan keguncangan politik yang berakibat sangat fatal bagi perekonomian Australia.
 









You Might Also Like

0 komentar