Menulis Itu (Bukan) Sekadar Gaya-gayaan

Juni 04, 2018

 Menulis Itu (Bukan) Sekadar Gaya-gayaan

Majalah Mata Indonesia - Bagi seorang pemuda menjelang 44 tahun, yang tengah segar-segarnya mencecap dan mencerup pedih-perih kehidupan, menulis adalah salah satu jalan memati-rasakan lidah agar tidak takluk pada nestapa nasib. TogelSingapore Menulis bukan lagi kesukaan atau hobi belaka, melainkan telah menjelma kebutuhan yang setara dengan makan dan minum, juga mandi dan dandan, juga nongkrong dan ngopi, juga tidur dan bermimpi.

Maka, tiada istilah gaya-gayaan atau sekadar ingin dibaca tulisannya atau supaya semata-mata terlihat cerdas dan pintar. Pemuda Menjelang 44 Tahun itu memandang tulisan sebagai roh bagi hidupnya. Berhenti menulis sama saja membunuh diri. Padahal, bagi pemuda itu, bunuh diri itu sedungu-dungunya pilihan hidup.

Apakah tulisan bisa membiayai ongkos hidup yang kian mencekik leher?
Pertanyaan itu pernah diajukan seorang temannya pada sebuah obrolan ringan di kafe yang kopi hitam kentalnya tidak mencapai sepuluh ribu. Ketika pertanyaan ini menyerbu kupingnya, ia sempat tertegun beberapa jenak. Hampir susah bernapas. Serasa diserang sesak napas yang sangat menyiksa.

Bisa saja, waktu itu, ia berkilah bahwa tidak semua pertanyaan butuh jawaban sebagaimana tidak semua makanan butuh sendok. Hanya saja, jawaban sedemikian sungguh tidak memuaskan. Baik bagi si penanya maupun bagi si penjawab.

Pertanyaan itu sukar dijawab selintas pikir, apalagi sekelebat ujar.
Hampir sesukar lelaki menjelang asar menjawab pertanyaan mengapa ia belum juga menikah dan memilih lajang sebagai jalan hidup. Hampir sesukar politisi dari partai oposisi yang mahir menyidir dan rajin menyinyir ketika ditanya mengapa tidak ada secuil pun sisi baik dari Pemerintah di matanya.

Hampir sesukar narapidana korupsi yang ingin tiarap di penjara tatkala ditanya apa tanggapannya atas hasrat KPU yang berniat menghabisi hak politik mantan narapidana kosupsi. Tidak enteng, tidak ringan.

 Menulis Itu (Bukan) Sekadar Gaya-gayaan

Namun, Pemuda Menjelang 44 Tahun itu tetap menjawab. Sederhana saja jawabannya. Jika takaran kita adalah memenuhi keinginan, pasti ongkos hidup jauh dari tercukupi. Itu betul. Jangankan penulis, pengacara ternama yang bergelimang uang saja akan selalu kurang apabila seluruh keinginannya harus ditebus.

Jangankan penulis, artis ternama yang berenang di lautan order dan honor saja akan megap-megap apabila segala keinginannya harus dibeli. Saudagar atau pengusaha kaya raya saja, yang memiliki banyak perusahaan sebagai pohon uang, akan pailit alias bangkrut jikalau hidup di atas pemenuhan keinginan.

Biaya keinginan itu mahal. Malah sangat mahal. Yang murah ialah biaya kebutuhan. Itulah mengapa si Pemuda Menjelang 44 Tahun itu mampu bertahan hidup. Ia sudah hidup mewah di sela-sela harta berupa buku dalam jumlah ribuan. Ia sudah hidup gagah di sisi tulisan atau karyanya yang belum seberapa.

Ia sudah hidup bahagia walaupun orang-orang melihat hidupnya jauh di bawah sederhana.
Apakah menulis bisa menenteramkan hati ketika perut dicincang rasa lapar?

Yang sulit bagi penulis bukanlah menahan lapar. Itu perkara remeh. Yang tidak remeh adalah menyiapkan sebuah tulisan bernas dan cergas, sebab itu membutuhkan stamina dan daya nalar yang mumpuni. Yang tidak remeh adalah menggali inspirasi sebagai tumpuan sebuah tulisan yang akan dihadiahkan kepada pembaca, sebab itu meniscayakan kekayaan pikiran dan pandangan.

Yang tidak remeh justru membekali diri dengan rupa-rupa bacaan pengaya, karena itu menyerap banyak biaya, waktu, dan tenaga. Yang tidak remeh justru mempersiapkan diri hingga sanggup menghasilkan tulisan yang kaya dan renyah dibaca, sebab itu memastikan kecermatan dan ketekunan.

Lapar bukan musuh bagi penulis. Lapar, sebut saja dengan nama yang lebih kejam: tidak punya uang, adalah musuh bagi keluarga atau orang-orang yang dicintai oleh si penulis. Imajinasi yang sudah menggelegak dapat mendadak runtuh ketika anak si penulis merengek-rengek karena kehabisan kuota.

Inspirasi yang sudah mengalir sederas bah seketika beku dan pampat ketika istri si penulis merajuk-rajuk karena kehabisan pemerah bibir dan pensil alis. Gagasan yang sudah siap dituang ke dalam tulisan tiba-tiba sirna ketika dapur tidak mengepul lagi.

Si penulis barangkali kuat menanggung beban lapar, keluarganya belum tentu.
Bagaimana bisa menulis dalam kondisi ekonomi yang payah?

Mencintai hidup. Itulah jawaban singkatnya. Kalau butuh jawaban panjang, sungguh lama mengurainya. Maka, si Pemuda Menjelang 44 Tahun itu mulai mengerutkan kening.

Penulis, katanya, hanya butuh kesadaran. Penulis harus sadar bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan batinnya. Anak yang butuh jajan dan keluarga yang butuh makan. Kesadaran itu akan mengantarnya pada hasrat menggebu-gebu untuk menghasilkan tulisan. Kesadaran itu juga kunci baginya memasuki deru imajinasi yang disukai pembaca sekaligus disukai jiwanya.

Kesadaran itu perlu pula ditularkan kepada orang-orang di sekitarnya, terutama mereka yang dicintainya. Sadar bahwa penulis tidak sepasti buruh atau pegawai yang jelas-jelas upahnya per bulan. Sadar bahwa penulis tidak semudah pedagang mengumpulkan receh. Sadar bahwa penulis bukan pesulap yang sanggup mengubah kertas koran menjadi selembar uang seratus ribu. Upah dalam bentuk royalti diterima enam bulan sekali. Itu pun jumlahnya tidak pasti. Tergantung keramahan pembaca. Kalaupun banyak pembaca yang membeli, negara sudah menunggu dengan tagihan pajak yang melangit.

Akan tetapi, membangun kesadaran itu tidaklah mudah. Sekalipun pohon kesadaran dapat membuahkan kesabaran, tidak banyak orang yang bersedia menanam pohonnya. Apalagi tekun merawatnya setiap hari. Tiap-tiap manusia butuh direken. Butuh dianggap ada. Para filsuf menyebutnya eksistensi. Inilah muasal keinginan. Dan, berpotensi menyusun lapisan-lapisan keinginan berikutnya.

Si Penulis Menjelang 44 tahun itu menghela napas. Hasrat menulis, katanya, tidak terlalu dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Memang ada pengaruhnya, tetapi ditilik dari sisi positif. Alih-alih meredakan gairah menulis, kepayahan ekonomi justru memantik dan memantek semangat.

Sebagian penulis pernah menghasilkan royalti puluhan hingga ratusan juta. Ada pula yang mencapai angka miliar. Meskipun tidak sedikit yang cuma mendapat jutaan per enam bulan.

Jumlah uang belum menggaransi hidup kita akan nyaman, selama tujuan kita adalah memenuhi keinginan.
Mengapa tidak mencari pekerjaan selain menulis?

Pertanyaan seperti ini sungguh remeh dan tidak ramah. Kita tidak bisa menuding tikus atas takdir hidupnya. Wahai tikus, mengapa kamu tidak menjadi harimau saja agar kamu tidak dikejar-kejar kucing? Menggelikan. Menulis memang pilihan. Tetapi hak setiap orang memilih jalan hidupnya. Jika kamu bersimpati kepadanya, belilah karyanya. Bukan menyuruhnya mencari pekerjaan lain. Apalagi meminta buku gratis kepadanya.

Akan tetapi, ada benarnya. Itu sebabnya si Penulis Menjelang 44 Tahun itu selalu menganjurkan para pemimpi yang ingin karyanya terpajang di toko buku agar tidak meninggalkan pekerjaan dan menanggalkan gaji demi menulis.

Jika kamu guru, menulislah tentang apa yang kamu kira akan berfaedah bagi pembaca. Jika kamu dokter, menulislah perkara bagaimana hidup sehat atau menjaga kebugaran atau hal-hal lain yang dibutuhkan pembaca. Jika kamu politisi, menulislah tentang politik sehat yang bertungkus-lumus pada akal budi.

Apa pun pekerjaanmu, menulislah. Mungkin waktumu akan disita oleh pekerjaan. Kita semua sadar pada kemungkinan itu. Namun, setiap kita dikarunia akal untuk mengakali waktu. Selalu ada celah bagi kita untuk menulis. Yang sering bepergian menggunakan pesawat bisa menulis di ruang tunggu bandara. Yang setiap hari harus berdiri di ruang kuliah bisa menulis pada jeda waktu sebelum atau setelah mengajar. Yang setiap hari disibuki jadwal operasi pasti ada saat-saat tertentu pisau bedah jauh dari jemari.

Masalahnya, kita semua terjangkiti penyakit parah. Namanya penyakit malas.
Bukankah menulis itu gaya-gayaan belaka?

Terpujilah mereka yang berkata dan berpikir seperti itu. Terpujilah mereka atas perkataan dan pikirannya yang sesat. Siapa saja berhak menulis. Siapa saja berhak menulis apa saja yang ingin ia tulis. Siapa saja berhak menulis apa saja yang diinginkannya dan bagaimana caranya menulis yang diinginkannya itu. Menulis akan mengantar kita ke gerbang kemerdekaan. Hanya sampai di gerbang. Di dalam gerbang kemerdekaan itu ada batasan-batasan berupa hak pembaca.

Tulis saja apa yang ingin kamu tulis. Bahkan tulislah sesuai gayamu. Tetapi pembaca punya hak memilih dan memilah tulisan seperti apa yang akan ia baca. Yang lain berhak menyukai karya penulis ini, yang lainnya berhak menyukai anggitan penulis itu. Bahkan mereka berhak mengomentari penulis ini dan itu, kadang-kadang seenak bacot mereka. Itulah hak. Itulah kebebasan.

Jangan heran jika ada anak zaman kiwari--maaf, aku tidak suka istilah kids zaman now--lebih mengenal Tere Liye dibanding Pramoedya Ananta Toer. Sah-sah saja. Tidak perlu meradang, tidak usah tercengang.

Namun, setiap penulis punya kewajiban mempertanggungjawabkan kandungan tulisan. Walaupun tenggorokan Barthes kering karena meneriakkan slogan pengarang sudah mati, penulis harus punya fondasi etis dan estetis atas karangannya. Tidak bisa lepas tangan begitu saja.

Menganjurkan kebencian, misalnya. Status sepele yang kamu sebar di media sosial gara-gara beda pendapat dengan kaum sebelah, secara etik dan estetik mesti dipertanggungjawabkan. Sindir-menyindir yang sudah mendekati tahap memburuk-memburukkan dan membusuk-busukkan, suatu ketika, pasti akan berdampak bagimu. Cepat atau lambat, tinggal tunggu waktu.

Apakah karena kamu dari kaum bani datar lantas kamu merasa berhak menghakimi dan menghukumi kaum bani taplak? Apakah lantaran kamu kampret lantas merasa berhak mendesak dan merisak kaum cebong? Apakah karena kamu pintar lantas merasa berhak menuduh yang lain goblok? Tidak seremeh itu, Sobat.

Menulis hal-hal receh seperti status di media sosial saja butuh pertimbangan. Bukan gaya-gayaan.
Si Pemuda Menjelang 44 Tahun itu, yang merasa selalu muda dan akan tetap muda karena tulisannya, mendesah karena hatinya tidak kunjung menghentikan pertanyaan. Ia sadar dan tetap sabar. Hatinya punya hak untuk bertanya. Seremeh dan sereceh apa pun. Bahkan ketika pertanyaan itu gaya-gayaan belaka.
 




















You Might Also Like

0 komentar