Mengapa Perokok Indonesia Cuek pada Gambar "Seram" Kemasan?

Juni 05, 2018

 Mengapa Perokok Indonesia Cuek pada Gambar "Seram" Kemasan?

Majalah Mata Indonesia - Saya bukan perokok. Tapi dalam kondisi terpaksa bisa menghisapnya, misalnya terkepung di antara teman-teman yang gila, bisa (tega) merokok di area berpendingin ruangan. Bungkus rokok bergambar "peringatan bahaya"  TogelSGP di meja seperti menertawakan saya. Sehari setelah itu, biasanya bibir saya jontor sariawan. "Dasar bibir bencong,gak bisa kena rokok. Eh, bencong kan perokok, ya?

Meski pun tidak merokok, saya tidak haram rokok (berasa seperti MUI yang suka melabeli halal produk tertentu). Persisnya, saya termasuk perokok pasif. Konon, jenis perokok ini lebih berisiko daripada yang aktif. Duh, salah lagi!.

Merokok sebenarnya kegiatan menghirup asap tembakau sampai masuk ke paru-paru, kemudian menghembuskannya ke udara. Hasilnya, saripati rokok -- konon campuran berbagai zat kimia --menempel di rongga dalam mulut,  kerongkongan dan akhirnya mengendap di paru-paru. Apakah itu nikmat?

Bagi saya terasa lebih nikmat menghisap aroma rokok ketika belum dibakar. Sensasinya seperti mencium wangi kertas parfum, yang ditawarkan oleh mbak-mbak pedagang parfum di mal-mal. Menciptakan efek reflektif sementara.

Berbeda dengan beberapa teman yang mampu menghabiskan belasan batang rokok saat mengobrol sekitar dua jam. Saya taksir, kecepatan rata-rata hisapan rokoknya 10 menit per batang.

Apakah Pak Jaya Suprana sudah mencatat kecepatan orang Indonesia menghisap sebatang rokok di Museum Rekor Indonesia (MURI) miliknya? Wallahu alam bissawab. Ane gak bisa jawab.

Ada teman yang bangga karena sejak melek mata sampai jelang tidur, dadanya dipenuh asap rokok. Dia masih merasa baik-baik saja sampai sekarang. Beberapa orang dengan profesi tertentu merokok, hidupnya sampai usia diatas 80 tahun.

Tentang alasan orang menghisap rokok berbeda-beda. Terlalu njlimet kalau ditulis. Tapi gambaran kasarnya ada yang karena iseng, demi menahan rasa pingin makan (dalam rangka diet -- biasanya perempuan), merasa lebih nyaman (konon menghidupkan otak sehingga penghisapnya lebih kreatif dan tidak mengantuk), melepas stress, mengenang masa lalu, membantu perekonomian rakyat, dan lain-lain.

 Mengapa Perokok Indonesia Cuek pada Gambar "Seram" Kemasan?

Penghayat rokok sejatinya memiliki kesamaan radikalnya dengan teroris. Ideologi mereka ketat dan menekankan bahwa merokok memperpanjang usia. Kalau pun mati karenanya, itu sudah membantu ribuan tenaga kerja di pabrik rokok. Kalau rokok tidak dibeli dan dihisap, karyawan pabrik akan menganggur. Maka, hukum merokok jadi sekelas berjihad.

Rujukan mereka adalah tokoh-tokoh dunia yang awet hidup, yang diantaranya sampai usia 90 tahun meski tetap merokok. Ini kontradiktif dengan hasil riset ahli kesehatan dimanapun di dunia, termasuk di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sejak pembungkus rokok dilabeli gambar peringatan bahaya merokok, ternyata militansi perokok tidak menurun. Gambar seseram apapun, tidak menggoyahkan keimanan untuk terus "berjihad". Tak gentar mereka hadapi gambar tengkorak, paru-paru yang rusak, bahkan gambar pria merokok sambil menggendong anak.

Kementerian Kesehatan mengajukan  gambar peringatan "bahaya merokok"  sebagai kampanye, agar orang berhenti merokok. Sayangnya, kenikmatan merokok dan melihat gambar yang secara estetika tidak bagus di pembungkus rokok adalah hal lain. Perokok di Indonesia semakin banyak, dari tingkat SMP sampai pengangguran.

Data tahun 2017 dari Kementerian Kesehatan jumlah perokok Indonesia 36,3 % (75 juta orang) dari jumlah penduduk. Dari jumlah itu, 20% adalah remaja usia 13-15 tahun dan 58,8% diantaranya remaja laki-laki. Yang mengejutkan, sebanyak 235 ribu jiwa setiap tahunnya terbunuh akibat konsumsi rokok di Indonesia. Gak terasa ya?

Dalam percaturan lomba hisap rokok sedunia, jumlah perokok di Indonesia menempati juara ketiga setelah negara Cina dan India. 

Banyak pihak yang peduli dengan data statistik itu. Pihak pemerintah sudah pasti, karena konon menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) indikator jumlah perokok di Indonesia itu, sangat mengancam program Nawa Cita pemerintahan presiden Joko Widodo.

Kenapa jumlah perokok dapat mengancam pemerintah? Karena, orang miskin bisa menjadi semakin miskin karena lebih memilih merokok ketimbang menabung, atau sekadar makan.

Ilustrasi itu bisa dilihat dari data Biro Pusat Statistik (BPS) berikut ini, bahwa alokasi anggaran rumahtangga orang miskin di Indonesia, menempatkan rokok sebagai nomor dua (12,4%). Biaya konsumsi rokok 4.4 kali lipat daripada biaya pendidikan, dan 3,3 kali lipat dari biaya kesehatan.

Akibatnya terjadi inflasi mencapai 10,7% per bulan, yang memiskinkan masyarakat ketimbang mencambut subsidi listrik untuk golongan 900 VA yang hanya 2,86%.

Konsumsi rokok masih dalam data BPS, juga menjadi salahsatu penyebab kematian akibat dari 10 penyakit utama yang tidak menular.

Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sedang berpikir keras menciptakan gambar-gambar peringatan bahaya merokok yang lebih mengerikan. Rencananya ukuran gambar "seram" di pembungkus rokok akan lebih besar (60%) dari yang sekarang (30%).

Apakah solusi seperti itu akan mengurangi jumlah perokok di Indonesia? Saya, kok pesimis. Karena ada semacam peringatan mengendap di alam bawah sadar masyarakat; semakin dilarang semakin penasaran untuk melanggarnya.
 













You Might Also Like

0 komentar