Menari Tidak Hanya Soal Gerakan, Tetapi Juga Kebahagiaan

Juni 01, 2018

 Menari Tidak Hanya Soal Gerakan, Tetapi Juga Kebahagiaan

Majalah Mata Indonesia - Hobi. Sebatas itulah saya mengenalnya, sebagai kesukaan atau hobi. Hobi yang ternyata masih bisa langgeng sampai sekarang meski sempat ada spasi, jeda. Ya,kemudian saya jadi sering bersyukur ketika menyadari kenyataannya hari ini. Togel Singapore  Saya masih diberi kesempatan untuk menari, lagi.

Ini memang bukan tulisan pertama saya soal menari. Sudah kesekian sekian, saya juga tidak ingat berapa, tapi jelas ingat pernah menulis tentang menari sebelumnya.

Contohnya saja waktu minggu lalu, 29 April yang bertepatan pula dengan Hari Tari Sedunia, disaat saya iseng mengecek laman kompasiana, saya jadi nyengir sebab ternyata satu tulisan saya telah diangkat menjadi featured. Tulisan yang juga saya baru sadari usianya sudah tidak bisa dibilang baru, sudah dua tahun saya lahirkan. 2016!
Mengapa Menari, Lagi?

 Menari Tidak Hanya Soal Gerakan, Tetapi Juga Kebahagiaan

Memang sih, jarang sekali saya mendapatkan pertanyaan semacam ini dari orang-orang. Alasannya mungkin karena orang di sekitar lebih sering menilai saya masih menari, padahal sebenarnya tidak sering juga bahkan sempat juga vakum. Hadeuh. Seperti masa-masa berjuang untuk diwisuda dan beberapa bulan setelahnya, misalnya.

Jawaban dari pertanyaan tersebut, yang saya buat dan tanyakan pada diri sendiri, adalah ada kenangan masa kecil yang seperti minta dilanjutkan deh. HAHA.
Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, semenjak kecil, saya sudah dikenalkan dengan menari. Namun, hanya sampai di sekolah dasar --itupun tidak penuh sampai saya kelas 6- saya masuk dan terdaftar di sanggar. Meski sudah masuk sanggar, seingat saya tidak pernah ada ujian tingkatannya, kami hanya datang-belajar tarian baru-selesai-ganti.

Kurang greget, iya! Padahal sewaktu saya masih kecil dan masih berada di depan panggung -maksudnya jadi penonton-, saya pernah menjadi penonton saat kakak saya ujian menari. Waktu kecil kakak saya aktif juga di sebuah sanggar (hanya sanggar kakak dan saya, beda).

Hingga di usia yang sekarang ini, setelah beberapa puluh tahun terlewati #halah, saya kembali masuk dan terdaftar pada sebuah sanggar. Sanggar yang benar-benar mengajari saya menari dengan benar-benar benar.

Sanggar yang membuat saya merasakan bagaimana rasanya ujian kenaikan tingkat yang sesungguhnya, yang dinilai dari ujung kepala sampai kaki,sedetail-detailnya. Pengalaman yang  juga sudah lama ingin saya rasakan sensasinya, dinilai bukan hanya sebagai  bentuk penghiburan semata namun benar tidaknya dalam olah gerak dan juga rasa.
3W dalam Menari

 Menari Tidak Hanya Soal Gerakan, Tetapi Juga Kebahagiaan

Bukan 5W1H, dalam menari minus 2W1H atau sama dengan 3W: Wiraga, Wirama, Wirasa. Tiga komponen penting dalam menari yang ternyata tidak semudah mengartikannya. Pun dalam ujian menari di sanggar, tiga hal ini yang jelas menjadi penilaiannya.

Wiraga, keterampilan gerak tubuh penari dalam sebuah tarian. Wirama, soal pengaturan dinamika (aksen dan tempo tarian), membuat harmonis antara gerak dan irama. Wirasa soal ekpresi, penghayatan dan penjiwaan dalam sebuah tarian.

Susah, iya ternyata susah! Menari yang benar ternyata memang ada ilmunya, ada proses yang harus dipelajari dan tentu yang paling terpenting mempraktikannya. Menyingkronkan seluruh bagian tubuh, mulai dari soal arah tatapan mata harus bagaimana sampai kaki yang tidak boleh telat hitungan.

Saya jadi paham, ketika seorang teman yang sedang menempuh pendidikan di seni tari pun masih mengambil kelas di luar atau bergabung sanggar demi mengasah kemampuannya lagi. Saya jadi takjub, ketika seorang pelatih mengatakan disela kami latihan, bahwa beliau pernah menghabiskan 365 hari kali dua, dua tahun! Hanya untuk belajar satu tarian.
Kalau direntangkan tingkat sulitnya, bagi saya soal wirasa ada di daftar teratas.
Merayakan Kebahagian

 Menari Tidak Hanya Soal Gerakan, Tetapi Juga Kebahagiaan

Terlepas dari susahnya menari dengan benar, jangan pernah takut untuk mempelajarinya. Susahnya memang ada, tetapi kebahagiaan yang diciptakannya lebih banyak. Dengan menari, kamu bisa melarikan diri dari hari-hari yang terkadang menjenuhkan.

Dengan menari, kamu juga sama halnya dengan sedang mengontrol diri (juga emosi), sebab darinya kamu dituntun untuk melakukan apa yang harus dilakukan apa yang tidak perlu. Setidaknya itu bahagia-bahagia yang saya dapat ketika menari.

Dari segi kesehatan, jelas menari adalah salah satu aktivitas fisik yang bisa melancarkan aliran darah sampai  manfaat lainnya seperti menguatkan memori karena harus menghafal gerakan, menunda kepikunan. HAHA.
Yap, menari memang bukan sekadar menggerakan tubuh tetapi lebih dari itu. Beruntungnya lagi, saya bersyukur karena setiap berkenalan dengan teman-teman yang menyukai seni terutama menari, mereka adalah teman-teman yang menyenangkan. Selaw!
 









You Might Also Like

0 komentar