Kangen Putin, Trump Kena "Bully"

Juni 12, 2018

 Kangen Putin, Trump Kena "Bully"

Majalah Mata Indonesia - Bukan Donald Trump jika tidak kontroversial. Sebelum panen pujian karena sudah jadi anak manis, mau berbaikkan dengan Kim Jong Un, Togel Hongkong Donald Trump kembali di-bully warga dunia dan Amerika Serikat. Kali ini gara-gara Opa Trump hendak mengajak lagi Om Putin ikut kongko-kongko bareng pimpinan 7 negara industri terkemuka yang menamakan diri G7.

Niat ini Opa Trump sampaikan kepada wartawan saat hendak terbang ke Quebec, Kanada untuk menghadiri pertemuan pimpinan negara G7 di Charlevoix, sebuah kawasan indah di negara itu. Trump bilang, suka atau tidak, mau salah secara politik pun, Rusia harus kembali dilibatkan kongko-kongko. Ekonomi dunia perlu diatur, dan tidak mungkin mengatur itu tanpa Rusia.

Sebelumnya, sejak 1997 Rusia memang sudah bergabung di dalam forum ngobrol ekonomi negara-negara industri terkemuka itu. Waktu masih ada Rusia, nama "arisan" ini G8, sesuai jumlah negara pesertanya.

Sejarah forum ini bermula pada 1970an. Saat itu dunia menghadapi krisis ekonomi (krisis utang Amerika Latin dan krisis harga minyak dunia). Itu krisis yang berat sebab berdampak kepada ketidakstabilan dollar sebagai jangkar mata uang internasional dan menyebabkan sistem nilai tukar tetap Bretton Woods yang telah kokoh selama 32 tahun (1944-1976) akhirnya ambruk.

Pusing berpikir sendiri, Menteri Keuangan AS George Schultz mengajak pemimpin tiga negara industri terkemuka saat itu---Prancis, Jerman, Inggris--kumpul-kumpul untuk berpikir bersama, mendiskusikan langkah-langkah mereka untuk menyelamatkan kejayaaan kapitalisme dunia.

Pimpinan 4 negara itu kemudian sepakat mengajak gabung rekan-rekan mereka, pemerintah negara kapitalis terkemuka lainnya. Maka bergabunglah Jepang (1974), Italia (1975), dan Kanada (1976). Dengan demikian, nama forum menjadi G7.

Rusia mulai diajak gabung setelah meninggalkan keyakinan komunisnya. Pada 1994 Presiden Boris Yeltzin diundang ikut pertemuan di Napoli. Tetapi keanggotaan Rusia baru resmi pada 1997 saat pertemuan  di Denver. Bertambah Rusia, nama arisan ngerumpi ekonomi itu berubah menjadi G8.

Pada 2014, di masa pemerintahan Om Putin, Rusia bikin ulah. Om Putin perintahkan bala tentaranya menduduki Crimea, wilayah Ukraina.

Tindakan Om Putin ini bikin iri 7 pemimpin negara lainnya. Selama ini mereka sudah sepakat untuk meninggalkan kebiasaan lama menjajah negara-negara kecil secara terbuka, kecuali jika bisa diciptakan alasan seperti tuduhan memiliki senjata Nuklir yang pernah dialami Irak itu, atau dengan mensponsori kekacauan dalam negeri seperti di Libya.

Untuk menunjukkan kepada dunia keseriuasan mereka menghormati demokrasi, tujuh pimpinan negara industri menskors Rusia dari G8 dan mengubah nama forum mereka kembali menjadi G7.

Selama Rusia belum angkat kaki dari Crimea, presidennya tidak akan diajak kumpul-kumpul lagi.

Reaksi Kawan-Kawan Tradisional Amerika Serikat

Sudah pasti rencana Opa Trump bikin gusar kawan-kawannya. Tante Theresa Mai yang beberapa bulan lalu bermasalah dengan Rusia terkait pembunuhan agen ganda di Inggris langsung saja berkomentar. "Iya, melibatkan Rusia itu penting (pura-pura bijak) tetapi Rusia harus terlebih dahulu menunjukkan perubahan kebijakannya terkait pendudukan Crimea."

Menteri Luar Negeri Kanada, yang bos-nya sedang perang twit dengan Opa Trump, langsung timpali, "kalau lihat gelagat, sudah jelas Rusia nggak mau berubah. Sifatnya sudah begitu, tidak menghormati demokrasi. Jadi kita tak punya alasan libatkan mereka.

Om Giuseppe Conte, Perdana Menteri Itali awalnya berkomentar tanpa pikir, "Kayaknya usulan bagus, tuh," mendukung Trump. Tetapi sepertinya "setelah dimarahi" Kanselir Jerman Tante Angela Merkel karena tidak kompak, ia manggut-manggut saja ketika Tante Merkel katakan, "Semua negara anggota Uni Eropa, termasuk Conte, sudah setuju jika Rusia belum akan diterima kembali sebagai anggota G7 sebelum menunjukkan perubahan politiknya di Ukraina.

Rusia Keep Cool

 Kangen Putin, Trump Kena "Bully"

Mendengar keinginan Opa Trump dan penolakan Om-Tante bos negara-negara industri lain, Om Putin ja'im. Ia tidak banyak bicara. Anak-anak buahnya yang berkomentar.

"Sepertinya negara-negara G7 itu deh yang butuh Rusia. Kami nggak ngerasa butuh-butuh amat temenan dengan mereka, kok," kata Om Konstantin Kosachev, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri di Majelis Tinggi Rusia. "Kalau mau temanan lagi, ya cabut donk sanksi kepada Rusia dan nggak usah sok dikte-dikte kebijakan Rusia, lah," lanjutnya.

Komentar pemeritah Rusia juga senada anggota DPR-nya. "Maaf, kami fokus cari format lain, G7 mah kami woles aja," kata Om  Dmitriy Peskov yang kalau di Indonesia jabatannya setara Om Johan Budi.
Oposisi dan Kawan Separtai Nge-bullying Trump

 Kangen Putin, Trump Kena "Bully"

Yang paling nyinyir soal rencana Opa Trump ngajak Om Putin kangen-kangenan di forum G8 justru publik Amerika Serikat, baik kalangan oposisi, pun rekan separtai.

Koresponden  senior Hufftington Post untuk Gedung Putih, S.V. Date menulis artikel bernada mengolok-olok, "Trump's Policies Paying Off For Man Who Helped Make Him President: Vladimir Putin" 'Kebijakan Trump membayar lunas orang yang membantunya jadi presiden: Vladimir Putin'

Om Date ngompori dengan mengutip pernyataan beberapa orang, seperti Tom Nichols yang ahli Rusia di Naval War College dan  Ned Price, mantan analis CIA.

Om Tom Nichols katakan, jika yang Trump lakukan ini adegan sinetron, ia akan buang ke tempat sampah skrip-nya---entah apa pendapatnya soal skrip Bumi Manusia om Hanung ya?--sebab terlalu konyol. Ia tidak bisa membayangkan siapa yang bisa berpikiran seperti itu. Kalau diterjemahkan lurus saja, singkatnya: o'on banget sih Trump itu.

Om Ned Price lebih kocak lagi. Dia bilang Putin senang karena investasi Rusia di Amerika  sudah balik modal, bahkan untung besar, jauh lebih besar daripada yang bisa Putin bayangkan dan harapkan.

Om Ned sebenarnya menyindir  dugaan keterlibatan Rusia dalam pemenangan Trump secara curang pada Pilpres lalu.  Saat ini special counsel investigation memang sedang mengusut perihal itu.

Bukan hanya kubu kampret, bahkan cebonger, eh kok malah ke dalam negeri ya? Bahkan rekan separtai Opa Trump ikut-ikutan mengkritik.  "Itu menunjukkan kalau Trump sebenarnya lemah," kata Senator Republikan dari Nebraska, Ben Sasse.

Begitulah, Trump. Setelah masalah Putin  mereda, sekarang Opa Trump malah seru-seruan perang twit dengan Om Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada. Heeeh, baru juga temanan dengan Dik Kim Jong Un, Opa Trump sudah musuhan lagi dengan Kak Justin. Opa Trump mah gitu orangnya.

 
  

  





  






You Might Also Like

0 komentar