Wanita Masa Kini Nan Peduli Pendidikan Anak Petani

Mei 29, 2018

 Wanita Masa Kini Nan Peduli Pendidikan Anak Petani

Majalah Mata Indonesia - Berbicara tentang sosok yang memberikan inspirasi pada bulan Ramadan ini, maka dengan mantap akan berbicara tentang Founder Smart Farmer Kids In Action, Heni Sri Sundani. Seorang wanita berasal dari Jawa Barat, Togel Hongkong yang ditempa oleh kehidupan yang memprihatinkan. Namun boleh jadi, keprihatinan tersebut akhirnya membentuk diri Heni yang begitu tegar dan mandiri dalam menjalankan hidupnya sekarang.

Saya bertemu dengan Heni dalam sebuah acara yang digagas oleh Kementerian BUMN, dalam acara tersebut Heni didapuk sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Heni memberikan gambaran keprihatinan hidup, mulai dari ditinggal oleh seorang Ayah, kemudian disusul oleh Ibunda untuk bekerja yang pada akhirnya memaksa Heni diasuh oleh neneknya.

Keprihatinan yang dialami Heni tak berhenti sampai titik ditinggalkan oleh orang tua, keprihatinan dalam menjalankan pendidikan pada saat masa sekolah dasar pun harus di lakoni, dimana ia harus berjuang untuk bersekolah dengan jaraka tempuh yang cukup jauh, kalau tidak salah 2-3 jam dengan berjalan kaki. Namun hal tersebut tetap dilakoni oleh Heni, agar tetap mendapatkan informasi baru dan ilmu pengetahuan. Walau terkadang Heni harus menyesal ketika datang jauh-jauh ke Sekolah, namun guru yang dinanti tak kunjung datang.

Tak jarang pula kala musim hujan Heni harus berbasah-basahan untuk sampai ke sekolah, dan ketika sampai harus terlebih dahulu mengeringkan baju dan badan yang basah kuyup diguyur hujan. Layaknya seorang anak kecil, hal tersebut hanya dapat ia lakoni untuk tetap menjaga mimpi kepada masa depan yang lebih baik.

Pada masa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Kejuruan, karena jarak rumah nenek begitu jauh hingga memaksa Heni untuk tinggal mandiri di sebuah kost. Adapun untuk biaya kehidupan sehari-hari, Heni harus bekerja kesana-kemari agar tetap bisa melanjutkan hidup dalam meraih pendidikan. Tak jarang ketika pulang ke rumah neneknya, Heni dibekali beras oleh neneknya, dan hal tersebut begitu terasa manfaatnya bagi Heni karena dapat memiliki pasokan yang cukup pada beberapa pekan hidup dirantau.

Apa yang dilakukan Heni, ternyata dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitar dimana ia tinggal, Heni dianggap tidak tahu diri dan egois dalam melanjutkan pendidikan. Cibiran yang diterima Heni tak lantas membuat Heni putus asa, malah Heni bertekad akan membuktikan apa yang dilakukan olehnya akan dipanennya suatu hari.

Selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan, Heni berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Namun Heni cukup sadar diri dengan kemampuan keuangan saat itu, hingga pada akhirnya solusi terbaik bagi dirinya untuk dapat melanjutkan kuliah ialah, menjadi tenaga kerja Indonesia di Hongkong sebagai asisten rumah tangga. Penuturan Heni kala dibekerja di Hongkong, banyak perlakuan yang tidak mengenakkan dari pelbagai pihak, mulai dari agen yang nakal, hingga majikan yang sangat sinis memperlakukannya.

 Wanita Masa Kini Nan Peduli Pendidikan Anak Petani

Namun pada masa kehidupan di Hongkong tersebut, Heni secara pesat mengembangkan diri hingga dapat berkuliah secara sembunyi-sembunyi dari majikannya. Tak hanya itu, Heni pula mengembangkan diri lewat pelbagai tulisan ilmiah yang diterbitkan dipelbagai universitas. Tak jarang pula Heni menulis sebuah artikel untuk media masa di Hongkong, dan mendapatkan tambahan biaya kehidupan pada saat di luar negeri.

Pengembangan diri yang dilakukan tersebut, mengantarkan Heni sebagai salah satu orang tenega kerja Indonesia di Hongkong yang memiliki kemampuan dalam berdiplomasi, yang pada akhirnya Heni aktif sebagai aktivis ketenagakerjaan yang ada di Hongkong. Mulai dari situ Heni mengembangkan relasi lebih luas lagi, dan memberikan wawasan kepada para teman-teman tenaga kerja agar lebih sadar akan tujuan utama pergi sebagai tenaga kerja Indonesia.

Kehidupan yang cukup baik telah Heni raih di Hongkong, ditempat tersebut pula Heni mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan jenjang strata dua. Namun kesempatan tersebut ditolak oleh Heni, dan memilih untuk pulang ke kampung halaman untuk membangun kampung kelahiran menuju pergerakan masa depan yang lebih baik.

Yang dilakukan Heni ialah mengajar anak-anak petani, Heni lakukan hal tersebut secara total, dan tanpa bayaran sedikit pun dari siapapun. Boleh jadi apa yang dilakukan Heni, adalah bentuk kepedulian seorang sarjana membentuk gerakan sosial dalam membangun sumber daya manusia yang andal.

Atau boleh jadi, Heni ingin memberikan fasilitas kepada anak-anak petani untuk mendapatkan pendidikan yang lebih, tak ingin seperti dirinya ketika masa kecil yang kesulitan dalam mengakses pendidikan. Apa yang dilakukan Heni hingga saat ini, akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Setidaknya kabar baik dari Heni, anak didiknya telah ada yang diterima di salah satu universitas negeri terbaik di Yogyakarta.

Pada saat mendengar hal tersebut, mata saya mulai berkaca-kaca, apa yang dilakukan oleh Heni adalah bentuk nyata bagaimana ia mengorbankan diri sendiri untuk memberikan jalan kepada generasi masa depan yang memiliki mimpi. Jujur saya belum sempat terpikirkan untuk kembali ke kampung halaman, kemudian menghadirkan gerakan sosial bagi sekitar. Namun atas apa yang dilakukan oleh Heni, suatu hari saya pun ingin memberikan yang terbaik kepada masyarakat untuk meraih masa depan yang lebih baik.
 










You Might Also Like

0 komentar