Terlarangkah Penukaran Uang di Pinggir Jalan?

Mei 28, 2018

 Terlarangkah Penukaran Uang di Pinggir Jalan?

Majalah Mata Indonesia - Mendekati hari raya Idul Fitri ini, penawaran jasa penukaran uang rupiah baru di pinggir jalan makin marak. Togel Singapore Hal ini terjadi setiap tahun mengikuti tradisi masyarakat yang memerlukan uang baru pada saat hari perayaan nantinya.

Keberadaan jasa penukaran di pinggir jalan atau disebut inang-inang kerap dipertanyakan. Sah kah mereka? Terlarangkah mereka?
Aturan tertulis terkait larangan praktik itu sulit ditemukan. Kalaupun ada adalah aturan mengenai sahnya lokasi tempat mereka menjajakan jasanya yang biasa masuk dalam ketentuan Perda masing-masing daerah, bukan mengenai aktivitas penukarannya. Larangan juga muncul lebih pada pendekatan keagamaan seperti kemungkinan riba atau semacamnya.'

Bisnis ini selalu muncul setiap tahun karena selain memberikan keuntungan bagi para pembeli jasa, juga ada kemauan dari masyarakat alias memang ada pasarnya.
Ada nilai tambah yang diperoleh bagi kedua belah pihak. Dari sisi pembeli jasa, mereka mengambil keuntungan dari tiap jumlah nominal yang ditukar, bisa Rp5 ribu-Rp10 ribu atau jumlah lainnya. Keuntungan ini mereka anggap sebagai imbal jasa penukaran.

Dari sisi masyarakat pengguna jasa, mereka rela membayar uang tambahan itu karena beberapa alasan. Pertama, Masyarakat menghindari antrian di lokasi penukaran resmi di bank-bank atau kas keliling (layanan menggunakan mobil) yang biasa dilakukan bank Indonesia atau perbankan.

Ketiga, jumlah uang yang ditukarkan di bank umumnya minimal 100 lember per pecahan atau kelipatannya. Jadi masyarakat yang tidak memerlukan jumlah uang sebanyak itu juga memilih penukaran di pinggir jalan.

 Terlarangkah Penukaran Uang di Pinggir Jalan?

Lalu, apakah aktivitas semacam itu harus dihentikan? Mengingat payung hukumnya sulit ditemukan maka penghentian tidak bisa dilakukan secara resmi atau dalam rangka penegakan hukum, malah mungkin tidak bisa dihentikan ketika kedua pihak masih saling membutuhkan. Dengan demikian, yang dapat dilakukan adalah pendekatan melalui himbauan.

Himbauan penukaran uang kelokasi-lokasi resmi (kantor bank atau penukaran uang keliling di Bank Indonesia dan perbankan) terus disuarakan. Upaya ini cukup beralasan didasarkan berbagai pertimbangan.

Penukaran uang dilokasi resmi meminimalisir resiko masyarakat menerima uang palsu, sebagai pertimbangan utama. Bukan berarti penukaran uang di inang-inang ada uang palsunya tetapi jaminan seluruh uang yang ditukarkan itu asli tidak dapat di pertanggung jawabkan. Jika penukaran dilakukan di lokasi resmi tentu dapat dipastikan keaslian nya.

Selain itu, Penukaran uang baru dapat dilayani oleh seluruh kantor bank. Artinya, masyarakat mempunyai banyak pilihan dan kemungkinan atrian panjang dapat dikurangi. Bagi mereka yang enggan ke kantor bank, layanan penukaran resmi menggunakan mobil keliling cukup gencar dilakukan selama bulan Ramadan ini, Kuantitas dan penyebaran titik penukaran cukup banyak di berbagai daerah.

 Terlarangkah Penukaran Uang di Pinggir Jalan?

Kemudahan lainnya yaitu, tahun ini beberapa bank di daerah telah memberikan layanan penukaran dengan penggesekan kartu ATM yang akan mendebit rekening sesuai jumlah uang yang ditukarkan. Tentu ini diperuntukkan bagi mereka yang telah meiliki rekening bank. Mudah kan....

Yang terakhir penukaran uang dilokasi resmi sudah pasti gratis dan jumlah nya tepat. Tidak ada potongan jumlah uang ataupun biaya tambahan lainnya.

Upaya menghentikan praktik penukaran uang di pinggir jalan bukan hal yang mudah. Petugas lokasi resmi penukaran uang pastinya sulit memastikan penukaran adalah masyarakat yang memang bermaksud memperoleh uang baru atau yang akan di gunakan untuk bisnis penukaran. Ada kemungkinan juga penyedia jasa penukaran merupakan pemodal besar yang memang sengaja memanfaatkan momentum untuk memperoleh keuntungan. Mereka mampu memperkerjakan orang-orang lain untuk melakukan penukaran di lokasi-lokasi resmi.

Mungkin juga mereka sudah mempersiapkan stok uang baru jauh hari sebelum marak nya penukaran uang.
Apapun itu, jikalau himbauan telah dilakukan secara optimal maka akhirnya kesadaran masyarakatlah tumpuannya. Masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih tetapi akan lebih baik jika pilihan yang diambil telah mempertimbangkan resiko dan untung ruginya. Menukarkan uang di lokasi resmi sepertinya adalah pilihan yang lebih baik.
 






You Might Also Like

0 komentar