Memaknai Kembali Pancasila dalam Bernegara

Mei 31, 2018

 Memaknai Kembali Pancasila dalam Bernegara

Majalah Mata Indonesia - 1 Juni 2017 lalu secara resmi ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Presiden Joko Widodo menetapkan ini menjadi salah satu hari besar nasional yang kita peringati.

Pentapan ini bukan tanpa alasan. Jika melihat lagi ke belakang, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), TogelSingapore  Soekarno mencanangkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang kala itu akan merdeka. Peristiwa inilah yang melatarbelakangi pencetusan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni.

Penerapan nilai-nilai Pancasila kini menjadi sorotan di masyarakat. Nilai-nilai ini dianggap memudar dari kehidupan berbangsa bernegara.

Tidak jauh dari itu pula yang kemudian menjadi sorotan adalah besaran gaji anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang mencapai ratusan juta rupiah.

Kompasianer, adakah opini Anda terkait kelahiran Pancasila atau pandangan Anda tentang gamabran Pancasila saat ini? Atau juga mungkin Anda ingin menanggapi peran BPIP untuk mengingatkan kembali nilai-nilai Pancasila di Tanah Air?
Pengaruh Tiongkok dalam Pancasila 1 Juni

 Memaknai Kembali Pancasila dalam Bernegara

"Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, -- ialah Dr SunYat Sen! Di dalam tulisannya "San Min Chu I" atau "The Three People's Principles", saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh "The Three People"s Principles" itu."--Soekarno, Pidato 1 Juni 1945

Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengadakan sidang untuk pertama kalinya, 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Sidang itu hanya membahas satu agenda saja: apa dasar dari negara Indonesia Merdeka nanti.

Satu per satu anggota BPUPKI berpidato hingga tibalah giliran Soekarno pada 1 Juni 1945.
Hemat saya materi pidato Soekarno dapat dibagi atas tiga bagian utama. Pertama ia ajukan argumentasi mengapa kemerdekaan Indonesia sangat mendesak, dan apa syarat-syarat negara merdeka.

Soekarno merasa perlu menyampaikan ini di awal sebab ia melihat sejumlah anggota BPUPKI yang berpidato sebelum dirinya menyatakan keraguan atas kesegeraaan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Soekarno, keraguan itu muncul karena anggota BPUPKI terlalu detil menghitung segala sesuatu, berpikir terlalu zwaarwichtig (berat) dan jelimet.

Padahal menurut Soekarno, untuk mendapatkan pengakuan internasional, agar sah sebagai negara yang merdeka secara politik, internationalrecht (hukum internasional) hanya mensyaratkan tiga hal: bumi, rakyat, pemerintah yang teguh!
Kemerdekaan Indonesia yang mendesak adalah kemerdekaan politik, politieke onafhankelijkheid.

Kemerdekaan politik sekedar jembatan emas. Baru setelah melewati jembatan emas itu, bangsa Indonesia yang merdeka berjuang untuk menyehatkan, mencerdaskan, dan menyejahterakan rakyatnya.
Lebih dari 2/7 bagian isi pidato Soekarno bicara tentang hal ini.

Pada bagian kedua, yang mencakup bagian terbesar pidatonya (sekitar 4/7 bagian) Soekarno bicara tentang dasar negara.

Ia menguraikan satu per satu kelima prinsip yang akan menjadi dasar negara. Mulai dari yang pertama prinsip kebangsaan, lalu berturut-turut Internasionalisme atau peri kemanusiaan; mufakat atau demokrasi; kesejahteraan sosial; dan terakhir Ketuhanan.

Pada 1/7 bagian sisanya, Soekarno bicara tentang hubungan antara sila-sila ini.
Menurutnya, jika diperas menjadi tiga, prinsip kebangsaan dan kemanusiaan digabung menjadi sosio-nasionalisme; prinsip mufakat dan kesejahteraan sosial menjadi sosio-demokrasi; dan terakhir, sebagai landasannya adalah Ketuhanan.

Jika ketiga prinsip itu diperas lagi, kristalisasinya adalah gotong royong.
Pada bagian kedua, ketika menguraikan lima prinsip yang sebagai satu kesatuan merupakan dasar negara, weltanschauung, ada hal menarik tentang bagaimana pengetahuan yang Soekarno peroleh dari tokoh-tokoh turut mempengaruhi pemikirannya.

Sila pertama---Pancasila versi 1 Juni---kebangsaan, sebagaimana tampak pada paragraf teras di atas, dipengaruhi pula oleh pemikiran Bapak Bangsa Tiongkok, Sun Yat Sen.

Awalnya Soekarno berada dalam pengaruh gagasan Asser 'Adolf' Baars, mentor politiknya.
Adolf Baar adalah ketua ISDV dan salah satu pendiri Partai Komunis Hindia (kelak berubah nama menjadi PKI). Sebagaimana pengakuan Soekarno, Baars adalah penganjur internasionalisme dan penentang nasionalisme.

"Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. diSurabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, -- katanya: jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 17."

Adalah buku Sun Yan Sen, "The Three People's Principles" yang mencerahkan Soekarno sehingga sampai pada kesimpulan kebangsaan dan kemanusiaan atau nasionalisme dan internasionalisme adalah sama pentingnya. Dengan menyatukan kedua prinsip itu, Soekarno tidak menjadi seorang penganut kosmopolitisme atau sebaliknya chauvinism.

"Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, -- ialah Dr SunYat Sen! Di dalam tulisannya "San Min Chu I" atau "The Three People's Principles", saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh "The Three People"s Principles" itu."

Dalam Pancasila versi 1 Juni, Soekarno meletakkan kebangsaan/nasionalisme sebagai prinsip pertama, mendahului kemanusiaan/internasionalisme (prinsip kedua) karena menurutnya  Indonesia yang akan berdiri adalah Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa: Minangkabau, Makasar, Jawa, dan lain-lain.

Artinya suku-suku itulah yang secara alamiah memiliki le desir d'etre ensembles (kemauan hidup bersama) seperti teori Ernest Renan dan aus schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft (kesatuan karakter yang timbul oleh persamaan nasip) seperti teori Otto Bauer. Sementara untuk Indonesia sebagai suatu bangsa dibutuhkan alat yang dapat mempersatukannya.

Untuk mendirikan negara Indonesia sebagai nationale staat (negara bangsa), dibutuhkan prinsip kebangsaan, pripsip yang mempersatukan suku-suku bangsa menjadi sebuah bangsa yang seluas Sriwijaya dan Majapahit di masa lampau.

Karena pentingnya prinsip kebangsaan atau nasionalisme ini, tidak berlebihan jika Soekarno berterima kasih kepada Sun Yat Sen.

"Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, -- sampai masuk kelobang kubur."

Lantas Om-Tante protes. Lho, kan Pancasila itu digali kekayaan Nusantara, nilai-nilai yang digali dari masyarakat Nusantara. Kontradiktif donk Soekarno jika dia berterima kasih ke Sun Yan Sen.

Heuheu. Kata kuncinya gali, Om-Tante. Untuk menggali itu Soekarno butuh alat. Alatnya adalah pengetahuan, ideologi, teori-teori yang ia peroleh dari buku-buku.

Tanpa banyak membaca, tanpa berpengetahuan, tanpa berideologi, Soekarno tidak bisa menemukan nilai-nilai dasar yang menjadi pemersatu bangsa ini.

Maka patut diduga, mereka yang hendak memecah-belah bangsa; mereka yang mempropagandakan kebencian suku, agama, dan ras; mereka yang menjual kedaulatan bangsa, membiarkan penguasaan modal internasional atas sumber daya alam; mereka yang menjual rakyat dengan politik upah murah dan membiarkan terus bangsa ini jadi TKI tanpa perlindungan; mereka yang tidak menegakkan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi yang berdasarkan Ketuhanan, adalah orang-orang yang jarang membaca.

 






You Might Also Like

0 komentar