Penyakit Hantavirus Ternyata Bisa Membunuhmu Dengan Gejala Flu

April 30, 2018

Penyakit Hantavirus


Majalah Mata Indonesia ~ Ditemukan kasus terbaru hantavirus terjadi di Amerika Serikat. Merenggut nyawa Kiley Lane, ibu muda berusia 27 tahun asal Texas, sekitar tiga bulan setelah ia pertama kali memperlihatkan gejala.

Kala itu, 13 Januari 2018, Lane yang jarang ke dokter memeriksakan diri karena gejala flu seperti demam, nyeri otot parah dan kelelahan, membuatnya tak nyaman. Dokter pun mengira ia menderita flu, dan mengizinkannya pulang.

Esok harinya keadaan Lane memburuk. Ia dibawa ke UGD dan dirawat beberapa hari. Sepulangnya ke rumah, Lane yang memiliki seorang putri berusia dua tahun malah kesulitan berjalan sendiri. Kemudian, ia menjalani serangkaian tes penyakit.

Tanggal 5 Februari, Lane dinyatakan positif mengidap Hantavirus. Ia segera diterbangkan ke rumah sakit di Albuquerque untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.

Sejak itu Lane hidup dibantu mesin karena jantung dan paru-parunya melemah. Ia pun mengalami gagal ginjal dan menjalani dialisis. MandiriTogel Menyediakan 13 Game Live Casino Online Dan 8 Pasaran Togel Online Berlesensi Resmi

Ketika kondisi Lane bertambah parah akibat komplikasi dan sejumlah infeksi, keluarganya membuat keputusan berat untuk mematikan alat bantu pada 18 April.

Dengan berbagi kisah ini, keluarga Lane berharap tak ada lagi orang yang gagal mendeteksi Hantavirus lebih awal dan berujung kematian layaknya Lane.

Kendati begitu, bagaimana Lane bisa terpapar Hantavirus tak pernah terungkap. Tes kemungkinan adanya tikus maupun kotorannya di rumah Lane pun memperlihatkan hasil negatif.


Penelitian yang dilakukan pada penyakit Hantavirus ini lebih dikenal dengan tanda-tanda gejala flu yang tak kunjung membaik lebih dari seminggu. 

Diketahui penyakit menular yang disebar oleh hewan pengerat terutama tikus ini sangat mungkin berkembang di lingkungan dan alam di Indonesia. Selain itu, meningkatkan risiko penyakit menular baru (emerging infectious disease/EID), juga penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis).

Apalagi, hantavirus jarang terdeteksi dan bisa berdampak fatal karena gejala awalnya kerap salah didiagnosis sebagai flu. Akibatnya membuat hantavirus termasuk dalam kelompok penyakit yang terabaikan (neglected diseases).

Berbicara tentang penularan, Hantavirus diketahui bisa terjadi melalui kontak langsung dari tikus terinfeksi. Terutama jika ada luka terbuka. Misalnya terpapar urine, feses, darah, atau air liur, juga tergigit.

Virus juga bisa menular lewat makanan hingga udara yang tak sengaja terhirup atau setelah terpapar debu ketika bersih-bersih wilayah yang telah terkontaminasi tikus.

Selain itu, berada di lingkungan dengan jumlah populasi tikus tinggi juga berisiko tertular. Tingginya populasi bisa meningkatkan persaingan antartikus dalam mencari makan dan pasangan. Akibatnya, luka tikus akibat perkelahian tadi bisa menginfeksi manusia.

Penelitian yang diadakan di Kota Maumere menemukan bahwa banyaknya sampah dan kebiasaan penduduk membuang sampah sembarangan, termasuk lokasi dekat pasar sering menjadi tempat tikus bersarang.

Di dunia, 28 spesies hantavirus bisa menginfeksi manusia dan berkembang menjadi dua penyakit, yaitu hantaviruspulmonary syndrome (HPS) dan demam berdarah dengan sindrom renal (hemorrhagic fever with renal syndrome/HFRS).

Gejala awal keduanya sama, mirip flu. Kadang disertai muntah atau diare, termasuk ruam dan radang.

Setelah empat sampai 10 hari, tanda dan gejala yang lebih serius dimulai. Keduanya sama-sama menunjukkan tekanan darah rendah.

HPS menyerang paru-paru dan pernapasan yang ditandai batuk hingga sesak napas. Sementara HFRS langsung menyerang ginjal. Pun berkembang lebih lama ketimbang HPS, sekitar dua sampai delapan minggu.

Tingkat keparahannya bervariasi, tergantung jenis virus yang dibawa hewan pengerat.

Kasus yang menimpa Lane, adalah pengembangan hantavirus parah berjenis HPS. Virus HPS terutama disebarkan oleh tikus rusa, dan kerap terjadi di Amerika.

Sementara itu, HFRS ditemukan di seluruh dunia, dan disebabkan lima spesies hantavirus, yakni virus Dobrava, Puumala, Saaremaa, Hantaan dan Seoul.

Virus Dobrava, Hantaan dan Seoul berkembang di Asia termasuk Indonesia. Penyakitnya meliputi demam berdarah Korea, demam berdarah epidemik, dan epidemi nephropathia, dengan tingkat keparahan sedang sampai berat.

Di Indonesia, HFRS akibat virus Seoul paling mendominasi. Penyakit ini dibawa dan disebar oleh brown/Norway rat (Rattus norvegicus) yang lebih dikenal sebagai tikus got. Tikus agresif yang mudah berkembang biak ini bukan spesies asli Indonesia. Ia menyebar ke seluruh dunia lewat jalur perdagangan.

Hantavirus pertama di Indonesia dilaporkan pada tahun 2002, dengan 11 kasus yang mulanya dikira Demam Berdarah Dengue (DBD).

Di Amerika, kasus HPS pertama terjadi tahun 1993. Pada 2017, kasus baru HFRS oleh virus Seoul menginfeksi 17 orang warga di sana.

Sejauh ini, hantavirus tidak memiliki pengobatan khusus. Perawatan yang diberikan hanyalah terapi yang berfokus pada pernapasan atau gangguan ginjal, termasuk pengobatan untuk tiap infeksi.

Pencegahan penularan dan timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan kebersihan, terutama pada kebersihan rumah

Sumber

Baca Juga


 




You Might Also Like

0 komentar