Karena Orangtua Tak Pakai Hati, Anak Pilih Mati

Maret 12, 2018

 Karena Orangtua Tak Pakai Hati, Anak Pilih Mati

Majalah mata indonesia -  “Bu, aku mau minta dibuster,” ucap gadis belia yang tampak matang ini. Saya tidak paham apa yang dia maksud “booster”. Lalu dia jelaskan, dua tahun sebelumnya saya bimbing dia menemukan impian hidup. Ada 22 impian yang dia tuliskan dalam kondisi rileks dalam, salah satunya impian sukses finansial.

Gadis, sebutlah begitu namanya, bertemu saya pertama kali karena melakukan percobaan bunuh diri. Dia merasa tidak tahan lagi hidup dalam kendali ayah yang teramat sangat otoriter. Semua diatur dan ditentukan oleh ayah. Bahkan untuk hal-hal sepele sehari-hari seperti memilih makanan, selera berpakaian, gaya rambut, pilihan acara TV pun diatur oleh ayah.

“Apalagi soal memilih teman atau kuliah. Saya harus masuk jurusan yang sama sekali tidak saya mengerti, mengikuti maunya Papa,” ungkap Gadis. “Kalau hidup tidak memiliki kebebasan, buat apa hidup? Saya capek,” katanya. Maka dia coba mengakhiri hidup, tapi setiap kali tidak punya nyali.

Keinginan bunuh diri juga dialami oleh Nindy, bukan nama sebenarnya. Pekerja seni ini beberapa kali ingin mengakhiri hidup, karena sudah tidak tahan menghadapi ibu yang semena-mena. Sejak kecil ibunya selalu menimpakan kesalahan atas apa pun yang bahkan tidak dia perbuat. Sekadar ingin mendekat seperti teman-temannya bisa bermanja-manja terhadap orangtua, Nindy selalu dibentak supaya menyingkir.

Hingga dewasa, sikap semena-mena itu terus berlanjut. Ayah yang semula penuh kasih menjadi keras dan pemarah setelah mendalami agama dengan aliran tertentu. “Di rumah rasanya seperti neraka. Kakak saya sudah jadi pasien psikiater karena gangguan jiwa, saya juga pernah berobat ke psikiater,” ungkap Nindy.

Tidak Ada Kasih

 Karena Orangtua Tak Pakai Hati, Anak Pilih Mati

Mengapa orangtua menjadi sumber masalah bagi anak-anak, hingga memiliki program bunuh diri? Pada kasus Nindy dan Gadis, dan kasus-kasus serupa lainnya, antara lain terjadi karena orangtua menjadikan anak sebagai sasaran pelampiasan atas ketidakbahagiaan dan tidakpuasan atas hidup mereka.

Nindy misalnya, sejak kecil mendengar ibunya menyebut diperlakukan sangat kejam oleh orangtuanya. Apa yang dilakukannya terhadap Nindy hanya porsi kecil dari yang dialaminya. Begitupun Gadis. Sang ayah sering bilang dirinya dibesarkan dalam kesusahan luar biasa. Orangtua cari uang susah, dapat air susah, makan susah, tidur berhimpitan, hidup tenang susah, dan sejenisnya. Maka dia harus mengontrol segala sesuatu sedemikian rupa, karena hidup itu susah.

Tanpa disadari ketidaknyamanan hidup dan ketidakbahagiaan orangtua ditularkan kepada anak-anak, membuat anak-anak tertekan. Ada orangtua yang menyatakan tidak mengasihi anak-anaknya, karena dia sendiri tidak mendapatkan kasih dari orangtuanya. Sebagian besar orangtua mengasihi anak-anak, tetapi tidak tahu cara yang tepat memberikan dan mengungkapkan kasihnya kepada anak-anak.

Orangtua sebaiknya memahami bahwa anak akan sukses dan bahagia bila mereka hidup dalam limpahan kasih orangtua. Karena itu bila di masa kecil mereka menderita dan tidak bahagia, sebaiknya segera mencari bantuan profesional. Mengapa? Orangtua adalah figur otoritas bagi anak, bila yang tersimpan dalam diri mereka adalah sampah maka sampah pula yang mereka berikan kepada anak.

Catatan : Perhatikan Teriakan Bawah Sadar

 Karena Orangtua Tak Pakai Hati, Anak Pilih Mati

• Perlu diketahui bahwa program bunuh diri tidak berarti benar-benar ingin mati. Kalau benar-benar mau mati mereka hanya akan menulis surat perpisahan, bukan melakukan percobaan bunuh diri. Program bunuh diri merupakan gejala adanya masalah di bawah sadar. Pikiran bawah sadar “berteriak kencang” dengan memunculkan keinginan atau upaya untuk bunuh diri.

• Ketika sumber masalah ditemukan dan diselesaikan di level bawah sadar, keinginan mati tidak ada lagi. Mereka mau melanjutkan hidup. Seperti Gadis dan Nindy, mereka ingin mengejar impian hidup, setelah mampu membebaskan diri dari tekanan mental.

• Anak-anak seperti Gadis dan Nindy tidak lagi mengizinkan orangtua berpengaruh negatif, setelah mereka dapat memaknai secara berbeda peristiwa-peristiwa hidup mereka. Mereka sudah mengerti bahwa sukses dan bahagia yang menentukan adalah diri sendiri.





You Might Also Like

0 komentar