Taktik Perang Jokowi : “Melebur dalam Permainan Musuh”

September 25, 2017


Togel Online  ~Sudah menjadi rahasia umum bahwa di negara manapun, seorang pemimpin negara pasti akan mendapat serangan dari oposisi, sebaik dan sehebat apapun ia. Yang membedakan adalah cara menghadapi serangan tersebut. Ada yang tipenya brutal, memberangus setiap serangan yang datang, ada juga yang memakai jalur damai dengan cara menyuap pakai uang atau kedudukan, yang terpenting kekuasaannya langgeng. Untuk beberapa pemimpin jujur, tidak sedikit yang harus lengser dini karena tidak sanggup menghadapi serangan tersebut.

Bagaimana dengan Jokowi?

Jokowi adalah presiden yang fenomenal dan menggemparkan dunia. Masyarakat dunia takjub dengan gaya kepemimpinan Jokowi. Wajah ndeso, tubuh kurus, kulit kecoklatan, dan wajah pas-pasan tidak menjadi penghalang kekaguman masyarakat dunia pada Jokowi. Jokowi tak butuh waktu lama untuk menjadi sosok fenomenal. Beberapa prestasi dan penghargaan dunia telah ia dapatkan.

Mengapa Jokowi bisa begitu fenomenal, masih tetap eksis membangun infrastruktur di penjuru negeri? Apakah dia tidak mendapat serangan berarti ? atau justru beliau begitu hebat dalam menghadapi serangan-serangan yang datang kepadanya?

Seperti yang sudah saya tulis di awal, seorang presiden pasti mendapat serangan dari opisisi, pun Jokowi. Namun dengan segala kelebihan dan anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya, beliau mampu menghadapi serangan yang datang bertubi-tubi dengan elegan.

Jokowi memiliki misi ganda dari setiap taktik yang ia jalankan untuk menghadapi serangan. Jokowi tidak hanya ingin serangan musuh menjadi impoten, namun juga ingin meningkatkan elektabilitasnya dan menurunkan elektabilitas lawan.

Untuk mendapatkan misi ganda tersebut, Jokowi tidak memberantas habis serangan yang datang seperti gaya Suharto. Jokowi juga tidak menyuap, mengajak kerja sama dengan imbalan uang dan jabatan, agar tidak merecoki pemerintahannya seperti yang diterapkan oleh  salah satu mantan presiden.

Kalau begitu apa yang Jokowi lakukan?

Jokowi memilih untuk melebur ke dalam permainan musuh. Jika Jokowi menerapkan gaya pertama, memberantas dan memberangus habis musuh secara brutal, mungkin dia hanya dapat satu misi, yaitu tidak ada lagi musuh yang merecoki pemerintahannya. Namun Jokowi tidak akan dapat misi yang kedua. Citranya pun bisa memburuk dan label diktator akan disematkan kepada dirinya.

Jika Jokowi memilih gaya yang kedua, dimana musuh diajak berdamai dengan beberapa imbalan, maka Jokowi memang bisa mendapat misi pertama, namun dampak negatif yang ditimbulkan jauh lebih besar. Jokowi bisa menjadi presiden yang didikte oleh mereka serta merugikan rakyat. Sejarah mencatat, hutang Indonesia meningkat drastis hanya untuk menyumpal mulut rakyat dan meninggalkan proyek mangkrak.

Jokowi adalah seorang kesatria yang akan ikuti permainan musuh. Itu satu-satunya cara paling elegan untuk mengebiri serangan musuh sekaligus meningkatkan elektabilitasnya.

Ketika Jokowi diserang lewat aksi 411 dan 212, Jokowi tidak melarang dan mengajak mereka berdamai. Jokowi membiarkan mereka bermain dan ikut melebur ke dalam permainan mereka. Jokowi membiarkan mereka tetap berdemo, namun Jokowi tetap waspada dan melakukan beberapa taktik untuk menggembosi kekuatan mereka, seperti menangkap orang-orang yang diduga hendak makar. Pembaca seword bisa lihat aksi 212 yang seharusnya menjatuhkan Jokowi malah menjadi panggung Jokowi. Rizieq pun dibuat tak berdaya. Dia tidak bisa berkutik saat Jokowi menjadi pusat perhatian dalam aksi 212.

Saat isu Rohingya diprovokasi untuk kepentingan politik, Jokowi ikuti permainan mereka. Jokowi membiarkan orang-orang mendiskreditkan dirinya soal Rohingya. Siapa sangka, dengan taktik mengutus Retno Sumardi ke Myanmar, Jokowi bisa mengirim bantuan ke Rohingya. Padahal PBB saja sulit masuk ke Myanmar. Gerakan Jokowi ini membuat musuhnya mengeluarkan pernyataan kontradiktif yang semakin membuat elektabilitas mereka terjun bebas.

Saat Fadli Zon dan Fahri Hamzah meminta Jokowi membantu Rohingya (padahal Jokowi sudah lebih dulu membantu Rohingya sebelum mereka koar-koar), Prabowo justru menganggap bantuan Jokowi hanya pencitraan. Masyarakat yang masih waras pasti akan bisa menilai betapa busuknya hati Prabowo. Sejak pernyataan ini, saya yakin elektabilitas Prabowo semakin turun.

Isu yang sedang panas-panasnya adalah PKI. Bagaimana taktik Jokowi menghadapi isu ini? Seperti biasa, beliau tetap masuk ke permainan lawan. Ketika lawan berhasil menggiring opini untuk nobar film G30 S PKI, yang kemudian dikukuhkan lewat perintah Gatot, Jokowi tetap membiarkan nobar itu terjadi. Namun beliau tetap waspada dan mencoba memasukan taktiknya dengan usulan memperbaharui film tersebut. Selain itu, saya yakin beliau juga sudah menyiapkan taktik yang lain untuk membuat isu PKI impoten dan tak bernyawa.

Isu PKI memang belum berhasil dibungkam oleh Jokowi untuk saat ini. Bisa dikatakan sekarang adalah saat dimana Jokowi dan lawan masih saling adu taktik dan strategi. Yang pasti, Jokowi sedang melebur dan menikmati permainan lawan dalam isu PKI.

You Might Also Like

0 komentar