Strategi Jokowi Soal Kivlan Zen dan Gatot, Biarkan Berlari dan Terus Berlari

September 26, 2017


Togel Online  ~Ini saatnya Presiden Joko Widodo menunjukkan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia, Panglima Tertinggi TNI. Inilah moment terbaik Jokowi dalam memainkan bidak politik yang tak pernah orang bayangkan. Bahwa Jokowi bukanlah sosok yang dilihat seperti yang dibayangkan, yang dilihat, termasuk oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sekali pun.

Berbagai pernyataan tentang nonton film G 30 S / PKI. Tentang isu senjata 500 pucuk. Minimal dua hal yang dilontarkan oleh Jenderal Gatot menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat dan media. Reaksi tersebut beraneka mulai dari menyoroti dirinya dan mengaitkan dengan Jokowi.

Manuver Pilpres 2019

Berbagai pihak membuat analisis. Banyak kalangan menyoroti. Parpol melakukan maneuver berapi-api. Media massa mainstream dan daring yang lebih banyak berpihak kepada uang pun bergerak trengginas, menyoroti bad news is good news – berita buruk adalah berita baik yang menguntungkan.

Spekulasi pun berkembang menyangkutpautkan berbagai sikap Jenderal Gatot dengan pencarian panggung jelang 2019. Momen bulan-bulan belakangan ini dianggap sebagai saat terbaik bagi Jenderal Gatot Nurmantyo untuk unjuk gigi, untuk menunjukkan pengaruh di TNI. Itu bukan masalah dan haknya sebagai warga negara. Hal itu pun juga sah jika dilakukan.

Jika memang dia sedang mencari panggung, lalu dalam testing the water ternyata popularitas Jenderal Gatot Nurmantyo melebihi pecatan jenderal Prabowo, bukan tidak mungkin Jokowi dan para partai ingin mengusungnya sebagai capres atau cawapres.

Perlu diperhatikan bawah Jenderal Gatot memiliki (tim) wawasan yang sangat hebat terkait dengan perang proxy, baik antar negara, maupun bisnis dan politik. Oleh karena itu tidak menjadi persoalan besar jika dia mencoba melakukan akselerasi politik untuk menawarkan dirinya kepada masyarakat.

Namun, ketika sikap dan lontaran pernyataannya itu menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat, maka pemerintah dituntut untuk meluruskan atau mengambil peran peredaman. Para yang terkait dengan pernyataan dan kebijakan Jenderal Gatot pun sudah meluruskan.

Penjelasan Menteri

Terkait senjata api yang dibeli BIN sebanyak 500 pucuk, sudah dijawab. Pembelinya adalah BIN dan senjata api itu bukan standard serbu atau tempur TNI. Jadi izin hanya sampai ke Polri. Juga tentang kebijakan nonton film G 30 S PKI pun tak perlu dibesar-besarkan. Silakan tonton. Setiap hari pun boleh menonton melodrama film pesanan eyang saya Presiden Soeharto itu.

Tentang ekses dan dampak dari berbagai simpang-siur yang terjadi akibat pernyataan dan kebijakan komunikasi Gatot, sudah ada yang menangani. Internal dan eksternal TNI juga tetap dingin dan nyaman. Polri pun juga menyikapinya dengan dingin, malah Jenderal Tito menyatakan Polri akan membeli senjata untuk polwan sebanyak 5,000 pucuk. Ini kebutuhan yang biasa terjadi di institusi BIN, Polri, dan sebagainya. So, tidak ada yang istimewa.

Melihat peta sederhana itu, maka sikap Presiden Jokowi yang membiarkan dinamika komunikasi politik berlangsung adalah hal yang tepat. Dia tidak menanggapi berbagai hal yang bersileweran terkiat isu PKI. Justru pembiaran ini adalah senjata mematikan. Cukup menteri-menteri atau institusi Polri untuk menjawab dan menanggapi Gatot dan perkembangan maneuver lainnya: plus medsos dan media opni saja.

Memetik Buah Strategi Perang Proxy

Pancingan yang sudah diatur rapi oleh musuh politik Jokowi yakni kubu Prabowo dan SBY dan didukung oleh kalangan status quo – bahkan terkait dengan keluarga Cendana sekalipun – tidak akan mendapatkan reaksi Presiden Jokowi.

Pernyataan Jokowi beberapa bulan lalu telah cukup untuk menjawab bahwa isu tentang PKI ini hanyalah omong-kosong karena penyebarnya yakni Kivlan Zen tak bisa menunjukkan orang, atau tokoh, atau organisasi yang nyata sebagai penggerak kebangkitan PKI. Mana ada jumlah 15 juta anggota dll. Mana?

Justru yang termakan dengan isu tentang kebangkitan PKI dimakan mentah untuk menyerang PDIP dilakukan oleh manusia aneh nan waras Waketum Gerindra, Arief Poyuono. Arief ini rupanya keceplosan dan tidak mampu menahan diri untuk tidak menyampaikan strategi internal Gerindra sendiri. Maka, menyadari hal ini Prabowo pun bertindak dengan memberikan peringatan.

Pun, sekali lagi, juga jika ternyata dia sedang mencari panggung untuk bekal pensiun lima bulan kedepan, maka juga bukan hal yang perlu dilarang dan ditindaki reaktif oleh Presiden Jokowi. Pernyataan apapun yang keluar dari Jokowi akan terus bergulir dan seperti memberi minyak kepada berbagai pihak, kawan dan lawan politik Jokowi.

Kelak setelah Jenderal Gatot pensiun, maka Presiden Jokowi dan masyarakat akan melihat buah maneuver tanaman selama 5 bulan menjelang pensiunnya. Saat itu akan tampak hasil dari seluruh praktik proxy warfare yang dimainkan oleh berbagai macam pihak. Para jagoan pun saling mengintip dan ingin menjadi bagian kemenangan perang proxy terkait kepentingan politik di Indonesia.

Untuk itu, terkait dengan sikap dan kebijakan Jenderal Gatot Nurmantyo, Presiden Jokowi pun tidak akan mengambil sikap reaktif. Bagi Presiden Jokowi, apa yang dilakukan oleh Gatot Nurmantyo adalah hal yang sangat bisa dipahami sebagai seorang penting yakni Panglima TNI.

Dan, tampaknya kini Presiden Jokowi pun tengah menerapkan strategi ‘biarkan dia berlari dan berlari terus berlari tanpa berhenti’, selama lima bulan, lima tahun, itu adalah hak yang dilindungi oleh konstitusi. Membiarkan orang baik kawan atau lawan berlari dan terus berlari kalau perlu tanpa tengok ke belakang dan depan adalah strategi yang sungguh tepat. Demikian the Operators. Salam bahagia ala saya.

You Might Also Like

0 komentar