Popularitas Gatot Semakin Meroket, Prabowo Yang Sebenarnya Terancam, Apa Dia Rela?

September 26, 2017


Togel Online  ~Isu-isu yang terjadi di Indonesia sepertinya menjadi berkah tersendiri untuk Gatot. Namanya yang sebelumnya jarang terdengar, perlahan namun pasti mulai rutin masuk pemberitaan media. Entah ini tujuan jangka panjang Gatot yang sudah direncanakan sedemikian rupa, atau Gatot mendapatkan ini secara tidak sengaja. Yang pasti, nama Gatot sekarang lebih menjanjikan dibanding Prabowo, apalagi dibanding Zulkifli Hasan, Rhoma Irama, Hari Tanoe, AHY, Sohibul Iman, Hidayat Nur Wahid, hingga Yusril.

Popularitas Gatot yang semakin tidak terbendung membuat peta kekuatan Pilpres berubah. Prediksi awal kekuatan politik pada Pilpres 2019 hanya antara Jokowi dan Prabowo, namun besar kemungkinan akan berubah dengan menyeruaknya nama Gatot. Nama Gatot terus dielu-elukan kaum sumbu pendek dan bumi datar sebagai sosok yang bisa menjungkalkan Jokowi.

Sampai sekarang masih belum jelas apakah Gatot berniat maju di Pilpres 2019 kalau ada partai yang mengusungnya. Jika memang berniat maju, apakah dia akan membentuk poros kekuatan baru, terlepas dari Jokowi dan Prabowo, atau justru bergabung dengan Jokowi maupun Prabowo. Dinamika politik begitu unik dan cepat sekali berubah.

Bagaimana perasaan Prabowo melihat fakta bahwa Gatot lebih diinginkan dibanding dirinya? Apakah dia rela melihat masyarakat mulai mengarahkan pandangannya ke Gatot?

Mungkin sesaat dia bisa tersenyum melihat gelagat Gatot yang mulai berani berseberangan dengan Jokowi. Prabowo mungkin senang melihat pemerintahan Jokowi mulai tidak kompak. Dengan isu PKI yang semakin memanas, tindakan Gatot semakin memperkeruh keadaan saat berbicara 5000 senjata illegal.

Pemerintahan yang tidak kompak, isu yang semakin memanas, situasi dan kondisi Indonesia yang semakin gaduh memang berdampak terhadap elektabilitas Jokowi. Jika Jokowi tidak mampu menyelesaikan persoalan ini, maka elektabilitasnya terancam terjun bebas.

Sekarang Prabowo mungkin sedang menikmati momen dari panasnya isu PKI serta gelagat membelotnya Gatot dari Jokowi. Beliau kemungkinan sedang menyiapkan strategi-strategi lain  yang dipersiapkan pasca isu PKI habis. Setelah bulan September berlalu, kemungkinan isu PKI akan mereda dan akan kembali panas saat mendekati bulan September tahun depan.

Prabowo boleh senang menikamati momen ini. Hubungan Gatot dan Jokowi semakin retak. Gatot bisa menjadi alternatif cawapres yang akan mendampinginya di Pilpres 2019. Namun jika Prabowo lengah, maka siap-siap Gatot yang akan menjegalnya.

Kaum sumbu pendek, ormas radikal, dan bumi datar sebenarnya lebih menginginkan Gatot dibanding Prabowo. Gatot dinilai lebih religius dibanding Prabowo. Gatot juga dekat dengan para ulama. Pribadinya dinilai lebih lurus dibanding Prabowo yang merupakan mantan jendral pecatan. Jika Gatot tidak sampai dipecat oleh Jokowi, maka beliau akan semakin dielu-elukan dibanding Prabowo.

Kaum sumbu pendek dan ormas radikal sedang mencari sosok yang bisa menjungkalkan Jokowi. Jika pada Pilkada DKI, mereka akan mendukung siapapun, asal bukan Ahok, pada Pilpres 2019, mereka akan mendukung siapapun, asal bukan Jokowi. Kebijakan Ahok dan Jokowi yang mereka tidak suka karena menyulitkan aktivitas mereka.

Nah, ketika ada dua opsi antara Gatot dan Prabowo, nalar saya mengatakan Gatot lebih akan lebih didukung oleh ormas radikal seperti FPI. Mereka mendukung calon yang dinilai terlihat religius dan dekat dengan ulama. Gatot dinilai lebih Islami dibanding Prabowo.

Sebetulnya, jika indikator yang digunakan adalah religius, Jokowi justru lebih religius dibanding Prabowo.Ssayangnya, Jokowi lebih memilih dekat dengan NU dibanding ormas-ormas radikal. Kedekatan dengan NU yang membuat mereka tidak suka dengan Jokowi. Persoalannya, mereka tidak mungkin bisa bergabung dengan NU karena perbedaan pemahaman dan praktek ibadah. Mereka iri dengan NU yang begitu mendapat keistimewaan dari Jokowi.

Dinamika politik Indonesia kedepannya semakin menarik. Pilpres 2019  sepertinya tidak akan diramaikan oleh Jokowi dan Prabowo saja menyusul semakin meroketnya popularitas Gatot. Beban Prabowo sebetulnya semakin berat. Gatot bisa menjadi rival berat Prabowo jika tidak berhasil digandengnya. Melawan Jokowi saja sudah berat, apalagi dengan ditambah melawan Gatot.

Gatot pun belum tentu mau digandeng oleh Prabowo. Bukan mustahil jika lama-lama Gatot akan semakin jual mahal dan mau digandeng oleh Prabowo jika menjadi capres. Bukan tidak mungkin jika Gatot lebih memilih membuat poros baru dibanding menjadi cawapres Prabowo.

You Might Also Like

0 komentar