Bocah-Bocah Pun Mulai Teriak “Bunuh PKI!”

September 25, 2017



Togel Online  ~ Baru membaca kalimat pertamanya saja saya sudah langsung ingat tragedi takbir keliling saat ada peristiwa pengeboman di Terminal Kampung Melayu. Saat itu, di malam yang sama di salah satu sudut Jakarta, ada segerombolan anak kecil yang bertakbir keliling sambil meneriakkan “Bunuh si Ahok, bunuh si Ahok, sekarang juga…“. Kok sekarang ada lagi bocah-bocah yang sudah lemes sekali bisa teriak “Bunuh PKI..Bunuh PKI“?

Hal ini membuat saya ngeri. Kenapa?

Pertama, begitu mudahnya kita meracuni anak-anak itu. Bocah yang sekarang dengan mudahnya teriak “bunuh” bukan tidak mungkin kan ketika tumbuh besar dia akan cenderung permisif jika ada suatu tindakan terjadi ataupun malah justru jadi pembunuh itu sendiri? Ini berlaku sama meskipun mungkin suatu saat nanti akan ada gerombolan anak yang teriak “Bunuh Rizieq, Bunuh Wowo,dan sejenisnya” saya pun akan menyampaikan keberatan dan tidak setuju dengan hal seperti ini. Alasannya sederhana, tidak pantas. Bukan ini yang kita harapkan dari generasi penerus bangsa.

Anak-anak itu masih polos dan ingatannya biasanya terbawa sampai dewasa. Yang jadi kengerian saya adalah suatu hari jika mereka mendengar sesuatu tentang Ahok maupun pendukungnya atau alih-alih ada orang yang sekonyong-kontong dituduh sebagai PKI maka mereka akan permisif jika orang tersebut dibunuh atau malah jadi pelakunya.

Kalau Anda ingat peristiwa pembantaian “dukun santet” di Jawa Timur beberapa tahun silam mungkin bisa jadi gambaran bahwa rusaknya logika seringkali mengakibatkan perilaku kriminal. Kenyataannya pada peristiwa itu justru banyak ulama NU maupun warga biasa yang jadi korban. Masyarakat sangat mudah terprovokasi dengan yang namanya dukun santet (ditambah tentunya gambaran selama ini bahwa santet selalu identik dengan korban yang mati mengenaskan sehingga empati pada korban dukun dan kemarahan pada terduga dukun sangat luar biasa) tanpa melakukan cek ricek dulu apakah yang jadi sasaran betul dukun santet atau bukan. Itu yang saya tidak mau terjadi pada anak-anak ini kelak.

Saya setuju bahwa generasi penerus bangsa butuh tahu sejarah republik ini sejak jaman kerajaan hingga apa yang terjadi sekarang. Buta sejarah akan mengakibatkan bangsa hilang arah. Namun juga mengajarkan sejarah harus dengan tanggungjawab bukan sekedar mencekoki mereka “Nak, ini lihat. Ini biadab!“. Tentu tidak bisa seperti itu.

Saya yakin kok mereka yang berteriak bunuh Ahok dan bunuh PKI itu sejatinya kalau ditanya “kenapa harus dibunuh?” paling juga hanya plonga-plongo sambil mengelap ingusnya masing-masing. Mentok hanya akan berakhir di jawaban “karena katanya menistakan agama” atau “karena katanya kejam“. Karena orang dewasa di sekitar mereka hanya mendoktrin, bukan membukakan cakrawala pengetahuan dan pola pikir mereka.

Saya tidak ragu bahwa anak-anak ini harus tahu upaya pemberontakan dan rongrongan terhadap ideologi negara akan membawa kerugian yang besar termasuk kepada sipil, tentu dalam bahasa yang dimengerti oleh usia mereka. Seharusnya pesan yang masuk ke mereka adalah kita harus menjaga persatuan kesatuan bangsa, jangan mudah terprovokasi, jangan berbuat jahat kepada sesama warga negara, menjaga perilaku, dll. Bukan dengan konklusi “bunuh!“. Ada yang salah kalau pulang nonton film justru yang mereka dapat hanyalah bisa teriak bunuh.

Kita juga tidak boleh menutupi fakta bahwa sejarah berkembang sangat dinamis. Ada bukti dan cerita baru yang dulu tak terkuak. Anak-anak ini harus tahu sebagai penyambung kisah bagi anak keturunannya kelak. Doktrinasi tidak akan membuat anak-anak memahami sejarah secara logis dan mampu mengambil hikmah dari beragam peristiwa yang terjadi.

Banyak sekali PR sejarah yang harus dijelaskan terhadap anak-anak kita. Mulai soal PKI, pemberontakan lain (DI/TII, Permesta, dll), Supersemar, KKN di era Orde Baru, kerusuhan Mei 98, penculikan aktivis, reformasi, kenapa ada tokoh reformis yang sekarang jadi sengkuni, mengapa HTI dan ISIS harus dibubarkan, dll. Dibutuhkan orangtua dan pendidik berwwasan luas, netral, tanpa jiwa baper yang bisa menjelaskan kepada anak-anak ini dan mengajak mereka mengambil hikmah di balik setiap peristiwa.



You Might Also Like

0 komentar